Oleh: ukimedia | Mei 29, 2007

Ujian Yang Mendewasakan Bagi UKI AMIKOM

Ujian adalah sebuah sunatullah. Dengan ujian, sesuatu bisa memiliki predikat yang mulia apabila ia lolos menghadapinya. Namun sebaliknya, ujian juga bisa membuat kita putus asa dan akhirnya mengundang kemurkaan Allah SWT. Di dalam Al-Quran, Allah SWT berfirman: “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu ?…(Q.S. Al Baqarah: 214 ). Sungguh mahal sekali tiket ke surga bagi orang yang tidak sabar dengan ujian. Pada waktu kita naik kelas pun kita harus diuji terlebih dahulu agar bisa memperoleh skor standar untuk bisa naik ke kelas selanjutnya. Sepertinya ujian menjadi syarat mutlak bagi kita untuk bisa memperoleh predikat yang lebih dari apa yang kita sandang hari ini.

Apa yang kita alami di UKI AMIKOM semuanya tidak terlepas dari ujian yang diberikan Allah SWT, untuk melihat sejauh mana imunitas UKI bisa istiqamah di jalan dakwah. Perjalanan UKI – yang secara resmi baru disahkan pada tanggal 22 Februari 2002 – masih terlalu muda untuk bisa menjadi sebuah Lembaga Dakwah Kampus (LDK) yang rapi dan sistematis. Namun, usaha-usaha mengarahkan UKI menjadi LDK mapan harus dibangun mulai saat ini. Waktu, tenaga, material, dan jiwa serta kesempatan yang diberikan para ADKnya, tentunya menjadi pengalaman dan penghayatan kita apakah semua proses tersebut sudah mendewasakan UKI baik secara keorganisasian atau pun secara individu. Bila jawabannya belum, sampai berapa lamakah kita mampu lebih dewasa dalam menghadapi ujian? Jawabannya sampai kita betul-betul bersungguh-sungguh untuk mendewasakan diri menghadapi ujian yang dialami UKI.

Banyak bentuk ujian yang telah dialami UKI, di antaranya adalah kekurangan kader baik secara kualitas, terlebih lagi kuantitas. Tahun ajaran 2005/2006 jumlah mahasiswa aktif AMIKOM mencapa 5.791 orang, jika dibandingkan kader UKI yang hanya 60 orang, itupun yang jadi kader aktif hanya sepertiganya (20 org). Jika diperkirakan jumlah mahasiswa muslim 75% dari jumlah mahasiswa aktif (4.343 org), maka perbandingannya 1 : 217, sangat jauh dari ideal untuk mengampu semuanya agar menjadi pemuda yang memiliki komitmen tinggi terhadap islam. Kekurangan kader ini membuat ADK UKI bekerja ekstra untuk menjalankan amanah-amanah ganda sehingga menyita waktu dan tenaga. Bagi sebagian ADK, sangat bersyukur bisa diberi kesempatan oleh Allah SWT untuk memiliki jadwal yang padat di dalam berdakwah. Yang kita takutkan adalah kita tidak diberi kesempatan oleh Allah SWT untuk memiliki agenda dakwah (apalagi menjalankannya). Demikian juga halnya dengan bentuk ujian-ujian lain yang dikaruniakan Allah SWT. Keberadaan sekretariat tetap UKI di kampus yang belum jelas juga menjadi penghambat koordinasi, khususnya antara ikhwan dan akhwat, sedangkan keberadaan sekretariat sementara UKI (yang saat ini berada di Jl.Kamboja 1/99 perumnas condong catur) hanya alternatif koordinasi untuk ikhwan. Ujian yang menimpa UKI juga terkait masalah dana subsidi akademik sampai Bulan Agustus sudah mencapai angka 0 rupiah, tentunya hal ini perlu disikapi dengan bijak supaya kita bisa berpikir mandiri dan berusaha mencari dana sendiri (masih ingat kisah seorang pemuda yang meminta uang kepada Rasulullah, lalu Rasulullah memberinya kampak). Hal ini bertujuan agar kita tidak menjadi generasi-generasi manja yang hanya bisa meminta namun tidak mampu memberi. Hadist Rasulullah SAW menyatakan bahwa tangan yang di atas lebih baik dari tangan yang di bawah.

Adalah hal yang wajar dan lazim bila kita pada awal bergabung dalam barisan dakwah mengalami cobaan dan ujian dari Allah SWT. Sebagai contoh, kekecewaan kita terhadap kondisi UKI yang tidak ideal; tidak seperti apa yang diharapkan, ditambah dengan agenda Syuro (baca:rapat) yang sering bentrok dengan kuliah. Namun, jangan sampai kekecewaan terhadap UKI berlarut-larut hingga kita tidak mau lagi berbuat untuknya. Berbagai guncangan yang dialami oleh UKI hendaknya membuat kita mampu berpikir lebih jauh dan bersikap lebih arif. Kemudian melahirkan berbagai solusi konstruktif bagi UKI ke depan. Tanpa ujian, UKI bukanlah apa-apa; UKI hanya akan mengalami stagnasi; ia hanya melaksanakan rutinitas-rutinitas yang terkadang membosankan. Ujian bagi UKI selayaknya membuat UKI lebih dinamis. UKI akan memiliki daya ungkit dan daya inovasi yang maju bila ia selalu mampu menghadapi ujian dengan sikap positif. Bermacam kemajuan akan didapat oleh UKI apabila ia berhasil mengatasi berbagai ujian. Bahkan bisa dikatakan, keberhasilan UKI salah satunya adalah berani menghadapi ujian.

Banyak sikap yang muncul pada saat UKI menghadapi ujian, minimal tergambar dari yang berikut ini: Lemahnya UKI dalam mengambil hikmah yang terkandung di balik sebuah ujian. Inilah sikap yang sering kita kedepankan sewaktu menghadapi ujian, sehingga pada saat ujian datang jarang sekali kita bisa menginventarisasi, mencatat serta mendokumentasikan setiap hikmah yang terkandung di dalamnya. Kalau pun kita tahu, itu masih hanya sebatas retorika yang kita kemukakan saat rapat atau melalui telepon. Itulah kelemahan kita dalam menghadapi ujian, hikmah yang ada hanya terdapat waktu rapat dan di telepon saja dan hal itu tidak menjadi sebuah akumulasi strategi dakwah ke depan. Sikap selanjutnya adalah kita cenderung mempersepsikan ujian menjadi sebuah masalah. Kebiasaan ini selalu melanda setiap ADK yang belum memahami apa dan bagaimana itu dakwah. Kita sering berkhayal, dakwah di kampus berjalan lancar-lancar saja tanpa menemui sandungan dan rintangan, padahal tabiat dari dakwah itu sendiri adalah penuh dengan permasalahan (dalam pengertian positif). Bila UKI dalam perjalanannya hanya lancar-lancar saja, kita tidak akan cepat besar menghadapi masalah sementara objek yang akan didakwahi penuh dengan masalah. Bayangkan, dahulu kita waktu kecil bermain sepeda, betapa seringnya kita terjatuh dan akhirnya dari jatuh tersebut kita memiliki ilmu supaya kita tidak mengulanginya lagi. Harus ada upaya untuk mempersepsikan setiap permasalahan yang ada di UKI menjadi sebuah motivator untuk meraih kesempatan memajukan dakwah UKI, karena sebagaimana dikemukakan di atas, hakikat ujian adalah kenaikan tingkatan ketaqwaan dan kemajuan. Jadi, tidak perlu bingung menghadapi masalah, tetapi hadapilah dengan senyum karena Allah SWT ada bersama kita sebagaimana ketika Rasulullah dan Abu Bakar bersembunyi di gua saat dikejar oleh kaum kafir Quraish. Pada saat Abu Bakar ketakutan, baginda Rasulullah hanya berucap, “Jangan takut, sesungguhnya Allah bersama kita”. Belajarlah kita untuk menjadi part of solution, not be a part of problem. Hal yang seharusnya menjadi sebuah pemahaman bagi kita adalah, saat kita berdakwah kepada saudara-saudari kita sejatinya kita tengah menawarkan solusi kepada mereka (Islam); logikanya, bagaimana mungkin kita yang menawarkan solusi bagi orang lain tetapi kita tidak mampu untuk menjadi solusi bagi diri kita sendiri dan UKI.



Sekarang kita lihat bagaimana sebuah kedewasaan bisa menjadi culture di UKI. Kedewasaan adalah sebuah sikap individu mau pun kolektif yang mampu memberikan beberapa pengaruh berikut ini:

Pertama, membangun cara berpikir konstruktif. Inilah indikator pertama dari sebuah kedewasaan. Orang-orang yang berada di komunitas kedewasaan ini akan memiliki sebuah kebiasaan yang positif. Mereka selalu berpikir kritis-konstruktif dan memiliki orientasi yang jelas. Perdebatan dan perbedaan pendapat ketika menghadapi suatu permasalahan bersama bagi mereka merupakan senjata yang mampu melahirkan ide lebih cemerlang lagi. Kita kilas balik lagi ke sirah sahabat, di saat Abu Bakar mengajukan usulannya, pada suatu waktu Umar bin Khathab selalu membantahnya. Karena penasaran, Abu Bakar bertanya kepada Umar bin Khathab, “Wahai Umar, kenapa setiap saya mengajukan usulan, kamu selalu membantahnya?” Jawab Umar, arena setiap saya membantahmu, kamu akan mengeluarkan ide lebih cemerlang dari yang sebelumnya“.Sungguh luar biasa kedewasaan mereka melihat sebuah permasalahan sekaligus mencarikan solusinya. Hendaknya kita dapat mencontoh para sahabat, baik ketika kita berada dalam posisi sebagai pemilik ide atau pun yang menanggapi ide. Bagi yang memiliki ide, berusahalah untuk mengeluarkan ide paling cerdas untuk kemajuan meskipun banyak bantahan yang akan datang. Namun sebaliknya, bagi yang menanggapi ide sebaiknya tidak ada maksud dan tujuan untuk menjatuhkan ide dari saudara kita. Jadi, komunitas yang dewasa akan membangun cara berpikir kritis-konstruktif dan orisinal di dalam membangun sebuah rekayasa masa depan untuk mencapai tujuannya.

Kedua, menjaga kestabilan jiwa. Orang atau komunitas yang sudah dewasa akan memberikan pengaruh berupa kestabilan jiwa–dari perspektif individu—dan gerak—dari perspektif komunitas. Jika kita ingin melihat kedewasaan UKI, lihatlah apakah gerak yang dilakukan selama ini sudah stabil atau labil. Bila jawabannya labil, maka akan menjadi tugas kita bersama untuk terlebih dahulu membuat diri kita stabil (mendewasakan diri kita pribadi) sehingga UKI menjadi perkumpulan orang-orang yang dewasa dan dengan sendirinya UKI juga akan menjadi dewasa (kestabilan gerak).

Ketiga, kemampuan untuk berbuat dan mandiri. Pengaruh yang ketiga ini adalah hasil dari cara berpikir konstruktif dan gerak yang stabil. Kemandirian dapat kita katakan sebagai upaya UKI dalam memecahkan permasalahannya sendiri atau pun usahanya sendiri untuk membuat UKI itu bangkit dan berkembang. Kemandirian itu bisa dilihat dari sedikitnya “pernak-pernik“ kemanjaan kader atau mekanisme organisasinya. Kedewasaan dan kemandirian hanya mengenal kekuatan keyakinan akan pertolongan Allah SWT dan kekuatan ilmu. Selain kemampuan untuk berbuat, kedewasaan juga memiliki pengaruh terhadap kemampuan untuk bertindak tepat. Dengan banyaknya ujian yang telah dilalui membuat ia akan memiliki segudang pengalaman: kegagalan dan keberhasilan. Dari hasil akumulasi ini, ia berani berbuat dan bertindak tepat, serta mampu berperilaku mandiri.

Bagaimana supaya berbagai ujian yang menimpa UKI bisa menjadi titik-titik kedewasaanya. Jawabannya dapat kita lihat dari firman Allah Swt surat al-Baqarah ayat 45, “Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu,“ . Sepintas dapat kita tangkap maksud ayat tersebut, bahwa untuk bisa dewasa dari setiap ujian yang dihadapi kita harus bersabar dalam artian mengambil hikmah dari setiap ujian yang kita hadapi. Untuk lebih memahaminya perlu kita kelompokkan artian sabar di sini, menurut para ulama (dalam suatu Hadits) sabar itu terbagi kepada tiga objek. Pertama, sabar terhadap musibah, kedua sabar untuk tidak melakukan maksiat dan terakhir sabar dalam taat kepada Allah. Kita harus sabar pada setiap apa yang menjadi objek sabar di atas, tidak hanya berusaha sabar dalam menghadapi musibah tapi mungkin yang sulit bagi kita adalah sabar dalam ketaatan kepada Allah dan sabar untuk menahan diri dari melakukan kemaksiatan. Sabar dapat kita artikan sebagai sesuatu yang bermakna progresif, karena sabar tidak sama dengan mengalah ataupun mundur, justru sabar adalah sebagai titik jeda untuk mengumpulkan energi-energi dakwah.

Kemudian senjata yang kedua adalah shalat. Shalat selain diartikan sebagai ritualitas dalam ibadah, hendaknya juga diartikan sebagai sarana character building (meminjam istilah dan uraian Ari Ginanjar). Dalam shalat inilah para kader UKI membentuk karakter-karakter pribadi mereka dengan karakter-karakter rabbaniyah. Shalat yang sebenar-sebenarnya akan membangkitkan elemen-elemen kedewasaan kita seperti (rasa tanggung jawab, kemandirian, keberanian, positif thinking, dan kestabilan/kebersihan jiwa). Dengan kedua senjata inilah ujian-ujian kedewasaan UKI akan menjadi saripati dakwah, yang sangat diperlukan dalam membangun nutrisi-nutrisi dakwah.



(inspirasi tulisan dari : Adzan, FSI NurJannah Padang dengan penyesuaian).
By : Onesia


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: