Oleh: ukimedia | Agustus 12, 2007

Rahib di Malam Hari, dan Penunggang Kuda di Siang Hari

Sebuah bekal hari ini yang sarat tuntutan,
Untuk masa depan yang penuh cahaya?
Wahai para pemuda,
Wahai mereka yang memiliki cita-cita luhur
Untuk membangun kehidupan?
Wahai kalian yang rindu akan kemenangan agama Allah?
Wahai semua yang turun ke medan,
Demi mempersembahkan nyawa di hadapan Tuhannya?
Disinilah petunjuk itu, disinilah bimbingan?
Disinilah hikmah itu, disinilah kebenaran?
Di sini kalian dapati keharuman pengorbanan dan kenikmatan jihad?
Bersegeralah bergabung dengan parade bisu?
Untuk bekerja di bawah panji penghulu para nabi?
Untuk menyatu dalam pasukan
?Sehingga tak ada lagi fitnah di muka bumi dan agama seluruhnya milik Allah?

Allah menjelaskan tentang hubungan antara kewajiban-kewajiban individu ?semacam shalat dan puasa- dengan kewajiban-kewajiban sosial; bahwa kewajiban pertama adalah sarana menuju terlaksananya kewajiban kedua, dan bahwa aqidah yang benar adalah dasar bagi keduanya. Maka seseorang tidak dibenarkan meninggalkan kewajiban-kewajiban individu dengan alasan sibuk melaksanakan kewajiban sosial. Juga sebaliknya, seseorang tidak dibenarkan meninggalkan kewajiban-kewajiban sosial dengan alasan sibuk melaksanakan kewajiban individu, sibuk beribadah dan berhubungan dengan Allah swt. Sungguh sebuah perkataan yang seimbang dan sempurna. ?Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami? Maha Tinggi Allah, Raja Yang Sebenarnya.? (Al-Mukminun: 115-116)

Sebagai wujud kepahaman terhadap makna yang diisyaratkan oleh ayat di atas, para sahabat Rasulullah saw. -sebagai generasi pilihan Allah- tampil dengan julukan, ? Layaknya Rahib-rahib di malam hari, dan penunggang kuda di siang hari.? Ketika malam tiba, mereka berdiri di mihrab hingga larut dalam kekhusukan shalatnya, menggeleng-gelengkan kepala dan menangis tersedu oleh dzikir panjang, seraya bergumam, ?Wahai dunia, bukan aku orang yang bisa kau tipu.? Namun, begitu fajar menyingsing dan hari beranjak siang, gaung jihad menggema menyeru para mujahidin, niscaya kau liat mereka segera melompat ke atas punggung-punggung kudanya sembari meneriakkan syi?ar-syi?ar kebenaran dengan lantang, sehingga menembus segenap penjuru buana.

Demi Allah, apakah gerangan di balik keserasian yang ajaib, keharmonisan yang sempurna, perpaduan yang spektakuler antara urusan dunia berikut segala pernik-perniknya dengan urusan akhirat dan segenap spiritualitasnya ini? Sebagai jawabannya adalah; itulah Islam, yang senantiasa sanggup memadukan semua yang baik dari segala sesuatu.

Wahai muslimin, untuk itulah -setelah Rasulullah saw. kembali keharibaan Allah- kaum muslimin segera bertebaran di segenap penjuru bumi. Al Qur?an ada dalam dada mereka, rumah-rumah mereka ibarat pelana-pelana kuda, dan pedang-pedang mereka senantiasa terhunus dalam genggaman. Dari lisan mereka mengalir deras hujjah-hujjah yang terang, menyeru manusia kepada salah satu dari tiga pilihan; Islam, jizyah, atau perang. Siapa yang memilih Islam, maka ia akan menjadi saudara kaum muslimin dengan menyandang hak dan kewajiban yang sama. Siapa yang membayar jizyah ?sementara ia tetap dalam kekafirannya- maka ia akan berada di bawah lindungan dan perjanjian dengan kaum muslimin, di mana kaum muslimin akan memenuhi janji dan melaksanakan semua kewajibannya. Tapi bila ia tetap enggan, maka kaum muslimin akan memerangi mereka sampai Allah swt. Berkenan memenangkan hamba-hamba-Nya. ?Dan Allah tiada menginginkan kecuali menyempurnakan cahaya (agama)-Nya.?

Mereka melakukan itu bukan karena ambisi kekuasaan, bukan pula karena semangat ekspansionis. Semua orang tahu kezuhudan mereka terhadap kedudukan dan popularitas. Agama Islam telah mengenyahkan semua kecenderungan menuju ke sana, di mana sekelompok orang menikmati hidup dengan cara mengorbankan sebagian besar manusia yang lain. Dalam Islam, seorang Khalifah tidak berbeda sama sekali dengan rakyat pada umumnya. Ia mendapatkan gaji dari Baitul Mal sama seperti gaji yang diberikan kepada orang lain. Ia sama sekali tidak mendapat lebih banyak dari mereka. Tidak ada yang membedakannya dengan rakyat kecuali wibawa dan kehormatan Iman yang dianugerahkan oleh Allah swt. kepadanya.

Mereka tidak melakukan itu karena harta. Mereka bahkan sudah merasa cukup dengan sekerat roti sekedar untuk menusir lapar, dan seteguk air untuk menghilangkan dahaga. Puasa mereka adalah sebentuk upaya pendekatan kepada Allah. Mereka lebih akrab dengan rasa lapar daripada kekenyangan. Pakaian yang bersih dan sekedar dapat menutup aurat sudah cukup bagi mereka. Kitab suci di tangan mereka setiap saat senantiasa memberi ingat dari keterjerumusan sebagaimana yang dialami oleh orang-orang kafir, ?Dan orang-orang yang kafir itu bersenang-senang (di dunia) dan mereka makan seperti makannya binatang-binatang. Dan neraka adalah tempat tinggal mereka.? (QS. Muhammad: 12).

Sementara itu Nabi mereka juga mengingatkan hal yang sama, ?Celakalah budak dinar. Celakalah budak dirham. Celakalah budak selimut.?

Jadi, mereka keluar dari rumah-rumah mereka bukan karena ambisi kekuasaan, bukan juga untuk memburu harta dan popularitas, apalagi karena nafsu imperialisme. Mereka keluar semata-mata untuk menunaikan misi suci sebagaimana yang telah diwasiatkan nabi mereka, Muhamamd saw. Sebuah amanat yang mengharuskan mereka berjihad di jalan Allah swt., ?Supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah.? (QS. Al Anfal: 39).

Sumber: Risalah Pergerakan (Jilid 1)

posted by : Karim


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: