Oleh: abuma | September 18, 2007

Peluang IT saat ini

Assalamualaikum, sahabat ukimedia.

Artikel ini ditulis karena kita memiliki background yang sama yaitu berkarya dan berdakwah di dunia IT. Nah siapa pun yang masuk didunia IT pasti merasakan betapa waaahnya dunia IT ini, hehe. Kenapa bisa begitu? Yah merasa gak merasa klo dah terjun dan menguasai ilmu IT perlu KERJA KERAS dan DOA tingkat tinggi. Hmmm klo yang gak serius sory aja la you😉.
Ini adalah artikel yang bener-bener bikin wah, pengen belajar ilmu dibidang IT.

Peluang IT saat ini
Meski masih banyak dibutuhkan di dalam negeri, peluang kerja di negeri orang pun terbuka lebar.

Dua tahun lalu ada berita yang cukup heboh sekaligus membanggakan buat bangsa Indonesia. Mungkin Anda masih ingat dengan nama Harianto Wijaya. Tak ingat, atau bahkan tak kenal pun tidak jadi soal.

Yang pasti, putra bangsa ini tercatat sebagai penerima pertama surat izin bekerja bagi warga asing di Jerman, langsung dari Menteri Tenaga Kerja Walter Riester. Harianto yang kala itu juga mahasiswa program doktor Jurusan Informatika di Universitas Teknik (RWTH) Aachen, Jerman, memang punya prestasi pendidikan TI (teknologi informasi) yang luar biasa. Tidak heran ia bisa mendapatkan green card.

Mengapa negara sekaliber Jerman mesti mendapat suplai tenaga TI dari luar negaranya? Kurang sumber daya? Dugaan itu ternyata betul. Perkembangan pesat teknologi informasi memang tidak hanya membuat ketar-ketir negara dunia ketiga, negara “dunia pertama” macam Jerman pun mulai merasakan akibatnya: kekurangan pakar TI yang tidak bisa didapatkan dari kalangan sendiri.

Maklum, jumlah yang dibutuhkan juga tak bisa dibilang sedikit. Tercatat saat itu sekitar 75.000 orang diperlukan oleh Jerman. Itu baru Jerman, belum negara lain. Tahukah Anda ternyata negara sebesar dan semaju Amerika Serikat(note: Bidang IT) pun masih mengimpor tenaga TI dari negara-negara di Asia, seperti India dan Cina. Nah, ini namanya peluang kan?

“Lowongan dari luar Indonesia untuk tenaga kerja TI kita banyak. Yang tercatat pada kami bisa puluhan ribu lowongan,” jelas Edi S. Tjahya, managing director JobsDB.com – sebuah portal informasi lowongan kerja. Lowongan sebanyak itu pun baru untuk wilayah Asia Pasifik.

Mengail di Negeri Orang
“Secara kualitatif, kondisi sumber daya manusia Indonesia di bidang IT tidak kalah kualitas dibanding SDM dari negara seperti India sekalipun,” papar Heru Nugroho, CEO PT Work IT Out, sebuah perusahaan penyalur tenaga kerja TI ke luar negeri.

Peluang bagi tenaga kerja TI untuk keluar negeri pun terbuka luas, seperti yang diungkapkan oleh Budi Raharjo, pakar TI dari Institut Teknologi Bandung. “Kesempatan tetap terbuka, apalagi didukung oleh faktor bergesernya dominasi India yang dikenal sebagai sumber SDM TI,” tambah Budi.

Tawaran gajinya pun cukup menggiurkan. Bayangkan, untuk tenaga kerja TI kelas pemula sampai menengah, perusahaan di luar negeri berani menawarkan upah sekitar US$ 400 sampai US$ 600 (sekitar Rp 3, 6 juta sampai Rp 5,5 juta) per bulan.

“Di kelas yang sama di dalam negeri, paling mereka hanya ditawarkan gaji sekitar Rp 900.000 sampai Rp 2,5 juta per bulannya,” ungkap Heru.

Itu baru yang pemula. Untuk yang sudah punya keahlian spesifik dan berpengalaman, di luar negeri gajinya bisa mencapai US$ 2.000 – 2.500 (sekitar Rp 18,2 juta sampai 22,7 juta) per bulan. Tiga kali lipat dibanding di dalam negeri yang pasarannya sekitar Rp 7 sampai 10 juta.

Bidang kerja TI yang terbuka pun beragam dan hampir sama dengan yang ada di lokalan. “Engineer untuk networking dan wireless serta programer, yang banyak dicari,” ujar Budi.

Heru pun sependapat dengan Budi. Hanya saja, tenaga TI yang memiliki kemampuan terspesialisasi seringkali dicari.

“Kebanyakan yang dicari adalah pada bidang yang spesifik, misalnya SAP. Sayangnya agak susah mencari tenaga kerja yang sudah spesifik ini. Saya pernah kesulitan mencari tenaga analis dan programer spesifikasi Oracle, yang juga mesti menguasai detil dengan segala aksesori aplikasinya,” papar Heru.

Masalah Kualitas
Meski terbuka peluang kerja di luar negeri dan di dalam negeri, umumnya perusahaan di luar negeri menyodorkan banyak persyaratan, yang memang agak susah untuk ditembus. Nah, yang jadi persoalan ujung-ujungnya adalah kualitas.

“Kendala bahasa Inggris memang biasanya menjadi penghambat,” tandas Hadrian Nataprawira, CEO DBMnet, yang bergerak di bidang pendidikan web bersertifikasi. Juga faktor kultur yang berbeda.

Masalah lain yang muncul adalah jarangnya tenaga ahli yang andal dan berpengalaman di Indonesia. “Sebagai contoh, sulit mencari Java programmer dengan pengalaman lima tahun, padahal umumnya di Indonesia baru berpengalaman tiga tahun. Beda dengan India,” papar Budi.

Persyaratannya pun tidak sebatas ijazah dari universitas atau lembaga pendidikan. “Khusus untuk luar negeri, kalau cuman sebatas itu, agak susah kami memasarkannya. Pengalaman kerja dan sertifikasi keahlian bertaraf internasional merupakan hal yg cukup mutlak,” ujar Heru.

Perlu Sertifikasi
“Di lapangan kerja di luar, sertifikat keahlian TI seperti Microsoft, Cisco, dan sejenisnya lebih dihargai. Beda dengan di Indonesia yang mesti mengikuti standar Bappenas. Punya sertifikat seabreg-abreg, tapi tidak punya gelar S1, maka akan dihargai rendah,” papar Budi.(note:bener lho ini, udah dibuktikan hihi😀)

Sertifikasi berbeda dengan ujian, lisensi ataupun registrasi. Sertifikasi ini adalah semacam pengakuan keahlian yang dikeluarkan oleh vendor TI yang terkait. Misalnya sertifikasi Microsoft, Cisco, Unix, Oracle, Lotus, dan sebagainya.

Intinya sih, sertifikasi ditujukan untuk membentuk standar kemampuan dan penguasaan kerja TI. Mereka yang memiliki sertifikasi Microsoft, misalnya, akan diakui kemampuannya dalam mengoperasikan aplikasi-aplikasi keluaran Microsoft. Hal ini dikarenakan mereka secara langsung sudah di-training dan dididik oleh Microsoft training center atau lembaga pendidikan yang ditunjuk oleh Microsoft.

Lembaga pendidikan bersertifikasi ini pun sekarang cukup banyak. Seiring semakin sadarnya para ahli TI untuk mengikuti perkembangan teknologi yang pesat.

Memang, ada perbedaan yang mendasar mengenai pentingnya sertifikasi dan ijasah. Ijazah adalah hasil pendidikan secara formal, dan sertifikasi adalah hasil belajar non-formal (semacam kursus). “Idealnya, seseorang SDM TI memiliki keduanya, ijazah dan sertifikasi,” papar Bambang Wahyudi, Dekan Faklutas Ilmu Komputer, Universitas Gunadarma.

LOWONGAN

(note:sering baca lowongan biar tau pasaran skill yang banyak dicari orang, trus biar siap kita diluar sana)
http://www.jobstreet.com

http://www.itjobs.org
http://www.careerbuilder.com
http://www.clickitjobs.com
http://www.jobsdb.com
http://www.dice.com
http://www.hotjobs.com/htdocs/channels/tech
http://www.how2findajob.com
http://www.itcareersource.com
http://www.itwow.com
http://www.jobcircle.com
jobs.internet.com
http://www.jobs.net/locations/id/indonesia.html

MODAL
Jika Anda ingin mencoba peruntungan Anda di bidang TI pada peluang kerja di luar negeri atau pun dalam negeri, tentu saja Anda mesti punya bekal. Apa saja modal yang mesti Anda miliki? Ancar-ancarnya sebagai berikut:

Berkemampuan bahasa internasional, minimal fasih bahasa Inggris(soalnya banyak artikel yang ditulis pakek bahasa ini)
Pengalaman kerja cukup
Memiliki sertifikasi keahlian atau spesialisasi di bidang TI bertaraf internasional(ini bener-bener akan memudahkan kita) Memiliki etika kerja yang baik(ini yang penting saudara-saudara, klo gak punya siap-siap dikucilkan, :P)


Responses

  1. Yuuk, kita juga bergerak untuk dakwah di Dunia IT.
    Rencananya pengen banget bikin project yang nantinya bisa kita sumbangkan ke masyarakat.

    Untuk sementara karena banyak yang pengen belajar PHP. Kita kedepan akan bahas mengenai PHP ini, nah untuk project Akhir kita akan bikin CMS untuk Profile Usaha.

    Pengennya nanti CMS Profile Usaha ini bisa bermanfaat untuk perusahaan, koperasi, dan berbagai badan usaha-usaha kecil yang pengen informasinya bisa di akses lewat internet atau istilahnya promosi gitu.

  2. mantap kie… untuk “cadangan”, bisa dicoba cari “pasif” income di dunia internet…😀 … tetapi tetap saja butuh belajar, kerja keras dan kesabaran…

  3. untuk skill indonesia ga jelek2 amat loh
    “Dari sisi skill, lanjut Djarot, Indonesia berada di peringkat 14. Namun dari sisi business environment Indonesia masuk di jajaran paling buncit, yaitu posisi ke-49 dari 50 negara, hanya unggul sedikit dari Senegal.”
    aku kutip dari artikel di blognya kang dwi http://duwex.wordpress.com/2007/06/27/upah-tenaga-kerja-ti-indonesia-terendah-kedua-di-dunia/
    buat tambahan ada juga
    http://duwex.wordpress.com/2007/06/27/207/
    maju terus IT indonesia

  4. sebenernya kalo mau serius di open source, buanyak peluang didepan hidung kita…. contoh mudah rumah sakit. kebetulan pasca romadhon saya berencana masuk ke salah satu rumah sakit besar pake channel qiyadah di legeslatif (biar mereka ga nganggur hehehehe soalnya beberapa waktu lalu mereka mengeluh: masak saya ini memfasilitasi kader hizbi lain melulu?? mana ikhwah????) untuk migrasi ke open source. wah nilainya bisa ratusan juta🙂 itu baru 1 rumah sakit. makanya ikhwah harus mulai unjuk gigi secara serius ke barisan depan dakwah di IT

  5. Iya, padahal peluang lewat IT sangat besar, yang baca pun sangat banyak. Kejahatan dan keburukan di internet sangat banyak, mengapa kita tidak menyeimbangkannya dengan kebaikan..?

    Semoga saja blog ini menjadi salah satu sarana untuk menyerukan kebaikan di belantara dunia maya..🙂

    Statistik blog alhamdulillah dah diatas 10ribu hits😀 semoga terus naik dan diminati para pengunjung dan yang penting…. diamalkan setelah dibaca..

  6. Mantab boss artikelnya. Trus nasib orang-orang seperti aku gimana je…? Kuliah ndak pernah lulus, certificate blass.. tapi masalah kebisaan boleh lah di uji…hehhehehe , bukan berarti aku pintar ya.. aku hanya ngatakan siap di uji. Gimana kira-kira nasibnya mereka2 dan salah satunya aku yang belajar IT nya dari Autodidak, Masak peluang kerja kita di jalur Carding, Crack…and other.. ??

  7. Lho pengalaman itu sangat bagus untuk peluang IT dibidang network security khan mas..?

    O iya, kata seorang ustadz terkenal pengarang banyak buku… perusahan itu melihat “sifat” seseorang, pengalaman dan ketrampilan itu semua orang bisa tapi kalau personality seseorang itu susah diudah….

  8. boleh percaya boleh ga.. waktu saya coba melamar kerja di qatar, persyaratan nomor 1 mereka adalah: Pengalaman..bukan ijazah… mereka menghargai kemampuan bukan gelar…

  9. Mudah-mudahan informasi yang anda muat akan mendatangkan keberkahan bagi kita semua. Amin


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: