Oleh: muliaok | November 18, 2007

Seri peneguh jiwa dijalan dakwah (III)

SEBUAH HARAPAN

 

Mengapa kita mau melakukan perjalanan dakwah, padahal tidak ada uang lelah, tidak ada upah, tidak ada kafalah? Mengapa kita bersedia berlelah – lelah di medan dakwah, padahal di dalamnya banyak fitnah, mihnah dan peluang musibah? Mengapa kita konsisten untuk melangkah menempuh resiko “hanya” untuk memperbaiki sistem yang terlanjur salah dan bubrah?

Inilah jawabannya : karena kita tengah melakukan perniagaan dengan Allah, yang tak akan pernah menyebabkan kita menjadi rugi atau susah. Semua berbuah kebaikan, semua berbuah keindahan. Mari kita simak apa yang Allah tawarkan :

Hai orang – orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari adzab yang pedih? (Yaitu) kamu beriman kepada Allah dan rasul-Nya, dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahuinya. Niscaya Allah akan mengampuni dosa – dosamu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai – sungai, dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam surga And, itulah keberuntungan yang besar.

Dan (ada lagi) karunia yang kamu sukai (yaitu) pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat (waktunya). Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang – orang yang beriman. (Ash-Shaff : 10-13).

Inilah perniagaan yang tengah kita lakukan dengan Allah. Kita tengah bekerja sistemik untuk melawan kezaliman yang sistemik. Kita tengah bergerak melakukan perbaikan pada saat banyak kalangan melakukan perusakan. Kita tengah memulai sebuah perubahan menuju masa depan Indonesia yang berperadaban, pada saat banyak orang melobangi kapal – kapal kehidupan untuk meneggelam-kannya ke dasar lautan.

Lihatlah berita – berita di media massa setiap hari sedemikian massif mengabarkan penyimpangan yang terjadi di lembaga legislatif maupun eksekutif. Tindak pidana korupsi, praktik money politic dan suap – menyuap (riswah) masih menjadi permasalahan moral yang mewarnai lembaga eksekutif, legislatif dan yudikatif. Rasa – rasanya, reformasi sama sekali tidak pernah menyentuh aspek moral. Terjadi pergantian kepemimpinan nasional, pergantian menteri, pergantian anggota legislatif, akan tetapi moralitasnya sama sekali tidak bernajak membaik.

Mudah dimengerti jika banyak kalangan masyarakat memilih menyelesaikan problem hidup dengan jalan pintas, seperti mencuri, mencopet, merampok, dan sebagian melarikan diri dari realitas permasalahan dengan mengkonsumsi miras dan narkotika, psikotropika serta zat – zat adiktif lainnya yang sangat membahayakan kehidupah manusia, karena perilaku menyimpang telah dicontohkan oleh para pejabat dan wakil rakyat yang seharusnya memberikan keteladanan dalam kebaikan.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: