Oleh: ukimedia | Februari 7, 2008

Belajar Dari Ikrimah

Ikrimah bin Abu Jahal adalah sosok sahabat nabi yang menjadi tauladan dalam mengutamakan kepentingan orang lain. Sejarah mencatat, di antara orang-orang yang termasuk dalam barisan Perang Yarmuk adalah Haris bin Hisyam, Ikrimah bin Abu Jahal dan Suhail bin Amar. Di saat-saat kematian mereka, ada seorang sahabat yang memberinya air minum, akan tetapi mereka menolaknya. Setiap kali air itu akan diberikan kepada salah seorang dari mereka bertiga, maka masing-masing mereka melihat kepada sahabat lainnya seraya berkata: “Berikan saja air itu kepada sahabat-sahabat di sebelahku, barangkali mereka lebih memerlukannya”. Demikianlah keadaan mereka seterusnya, sehingga akhirnya mereka bertiga menghembuskan nafas yang terakhir dalam keadaan belum sempat meminum air itu.

Dari cerita Ikrimah, saya teringat tentang ucapan seorang ulama yang mengatakan bahwa mengutamakan orang lain tidak perlu dengan melakukan hal-hal yang besar. Kita dapat melakukan hal-hal sederhana yang mungkin oleh orang lain dianggap remeh. Di dalam angkutan kota misalnya, bantulah orang lain dengan duduk di tempat yang memudahkan orang untuk masuk. Jika tempat duduk yang lain masih kosong, sebaiknya tidak duduk di dekat pintu dengan alasan lebih gampang untuk turun, lebih segar karena terkena angin dari arah pintu atau alasan-alasan yang menyenangkan diri sendiri lainnya padahal hal tersebut justru menyulitkan orang lain yang akan masuk. Begitu pula halnya jika kita menghadiri majelis taklim. Sering kita duduk di tempat-tempat yang justru menyulitkan orang lain yang akan masuk, di tangga atau di dekat pintu masuk misalnya. Padahal tidak terlalu sulit bagi kita untuk mengambil tempat duduk di tempat lain meskipun mungkin tidak senyaman di tangga atau di dekat pintu.

Contoh lainnya, jika menaiki tangga berjalan atau mengendarai kendaraan di jalan tol sebaiknya mengambil tempat di bahu kiri karena bahu kanan biasanya digunakan oleh orang lain yang hendak bergegas. Ketika ada pengendara sepeda atau orang yang akan menyebrang jalan, berilah kesempatan kepada mereka untuk menyebrang. Apalagi pada jalan-jalan yang tidak menggunakan lampu lalu lintas dan tidak ada jembatan penyebrangan. Mungkin contoh ini hanyalah contoh kecil, tapi sangat bernilai bagi orang lain.

Menyikapi kondisi saat ini, dimana banyak orang mengutamakan dirinya dan memperkaya pribadi, sikap mengutamakan orang lain maupun kepentingan umum merupakan suatu keharusan. Insya Allah, dengan cara tersebut, bangsa ini akan memiliki hubungan yang harmonis dan sejahtera bersama.


Responses

  1. hal itu kan ada karena biasa…lama-lama jadi kebiasaan…yah seperti itulah Indonesia…sudah menjadi budaya dan sebenernya tanpa disadari udah jadi kebiasaan hidup….kurang peka terhadap orang disekitarnya..istilahnya hidupnya individualime…”elo..eloo…guwe..guwe…mang gw pikirin mo susah or seneng yg penting ga nyusahin guwe….”(afwan yah pake bhs preman…)
    mulai memperhatikan yg deket2 dulu ajah..seperti keluarga, temen2 kampus, kalo dah dibiasin pasti lama2 jadi terbiasa untuk perduli sesama…
    mmm…..kalo menurut saya JASHTIS ini termasuk yg sudah mulai menerapkan kepedulian sesama…membuat blog untuk disebarkan kepada teman2…banyak artikel yg bisa dijadikan pembelajaran untuk merubah prilaku yg lebih baik lagi🙂
    oke tim jashtis terusss berjuang yaaaa….


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: