Oleh: ukimedia | Mei 30, 2008

“PAMOR” Dalam Organisasi… Perlukah…?

Ketika Rasulullaah dan Shahabat memperoleh kemenangan gemilang pada perang Badar, pamor kaum muslimin pada waktu itu naik drastis di kalangan bangsa Arab. Bagaimana tidak..? Kaum terusir dari kampung halaman yang hanya berjumlahkan 313 orang bisa mengalahkan pasukan berjumlah 1000 orang atau hampir tiga kali lipat. Sungguh prestasi yang sangat besar…

Ketika Kaum Muslimin mengalami kekalahan pada perang Uhud, pamor kaum Muslimin waktu itu menurun. Kaum Yahudi dan munafiq menertawakan kaum muslimin dan kaum Quraisy di Makkah pun semakin berani menghadapi kaum muslimin. Meskipun posisi kaum muslimin masih di atas, namun dengan kekalahan dalam perang Uhud, tentu akan ada kemungkinan kabilah-kabilah Arab yang lain untuk ikut menentang kaum muslimin.

Paska perang Uhud, Rasulullah membentuk satuan-satuan perang dan melakukan cukup banyak ekspedisi ke kabilah-kabilah yang memusuhi kaum muslimin. Ekspedisi-ekspedisi yang dilakukan tersebut berhasil, sehingga semakin memperkuat posisi kaum muslimin di negeri Madinah.

Mungkin sepenggal shirah diatas hanya sebagian kecil dari banyak kisah yang menyiratkan bagaimana pentingnya sebuah “pamor”, posisi ataupun kedudukan sebuah komunitas. Begitu pulan dalam sebuah organisasi… organisasi tanpa prestasi sepertinya menjadi sesuatu yang kosong, memang organisasi yang kuat itu akan tetap berjalan tetapi tanpa prestasi, orang sekitar akan kurang “simpati” dengan organisasi itu.

Maka sudah selayaknya dalam sebuah organisasi itu terdapat segelintir orang yang mendalami suatu ilmu sesuai kemampuan yang dimilikinya. Misalkan Unit Kerohanian Islam di Amikom, seharusnya ada beberapa dari pengurus yang menguasai salah satu ilmu tentang Informatika yang bisa membuat prestasi dengan kemampuan yang dimilikinya. Kemudian tunjukkan kepada mahasiswa yang lain maupun kepada dosen-dosen kalau pengurus Lembaga Dakwah Kampus tidak cuma bisa mengaji… Aktivis seharusnya juga punya prestasi akademis sehingga mahasiswa dan dosen pun akan semakin simpati kepada organisasi yang diikutinya….

Bagi aktivis yang sudah mempunyai “nama” di Akademik, tunjukkan identitas kalian sebagai aktifis dakwah kampus… bisa dengan cara memakai jaket organisasi, pin atau pasang stiker identitas mungkin…

Kalau om Dedi Mizwar bilang…

Bangkit itu mencuri, mencuri perhatian dengan prestasi….
Bangkit itu malu, malu menjadi benalu, bisanya minta melulu…

Mungkin bisa dipertimbangkan juga untuk mencoba mandiri, tidak selalu mengharapkan uluran tangan dari kampus…😀


Responses

  1. terimakasih untuk sharingnya..

    jadi bersemangat untuk ngga bikin malu >,<

    • anti ikut organisasi kan? apa anti termasuk yang mempunyai pamor di dalam organisasi anti?

  2. tes2

  3. tes


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: