Oleh: Emina | Januari 22, 2009

Ikhwan !

Secara harfiah, ikhwan berasal dari bahasa arab –artinya saudara laki –laki. Dan, tentu saja panggilan ini dinisbatkan kepada kaum adam. Jadi secara umum, ikhwan itu artinya laki –laki.

Dalam komunitas muslim, panggilan ikhwan biasanya diberikan kepada seorang laki –laki (of course) yang pemahaman keislamannya lebih baik. Secara kasar, bisa dibilang bahwa ikhwan ini adalah seorang cowok baik –baik yang rajin beribadah. Berat sekali, ya?

Sedangkan cowok, laki –laki atau apapun itu untuk memanggil kaum adam, dinisbatkan pada mereka yang biasa –biasa saja, kaum umum (amah) –kebalikan dari ikhwan tadi.

Pertanyaannya adalah, apakah dengan panggilan ‘ikhwan’ tadi ada jaminan tentang kualitas kepribadian, ibadah dan segala macam kualitas kebaikan yang memiliki nilai lebih dari yang lain?

Seharusnya sih begitu.

Saya berbicara secara subjektif saja. Bagi saya, itu bukan jaminan. Dan banyak orang juga sepakat dengan hal ini. Secara manusiawi, kita bisa mengatakan bahwa tak ada orang yang bisa sempurna dalam segala hal. Begitu juga dengan si ikhwan. Come on, mereka itu laki –laki biasa juga. Bisa marah, bisa kesal, bisa jatuh cinta, bisa melakukan kesalahan fatal, dan kemungkinan –kemungkinan kesalahan lainnya.

Jika ada seorang yang sudah terkenal dipanggil ikhwan, lalu tiba –tiba melakukan kesalahan yang melenceng dari keyakinannya sendiri, maka berkomentarlah semua orang yang sentimen, “sok suci. Apaan, tuh buktinya orang berjenggot yang dipanggil ikhwan juga melakukan bla..bla…”. Maka orang pun sudah tidak percaya lagi.

Panggilan ‘ikhwan’ memang bukan jaminan untuk menilai kebaikan seseorang. Akhir –akhir ini, banyak fenomena yang ironis. Sebuah pertanyaan besar yang mesti di jawab para ‘ikhwan’ ini. Fenomena memilih calon istri, misalnya. Banyak diantaranya yang menentukan kriteria sangat tinggi; kulit putih, tinggi, minimal pendidikan, sholehah tingkat tinggi, dan lain –lainnya yang kebanyakan bersifat physically. Kalau tidak sesuai kriteria itu, langsung mundur. Begitu juga sebaliknya, kaum hawa.

Kita ingin seorang pasangan hidup yang terbaik. Itu manusiawi. Orang tentu ingin yang terbaik, dan berhak untuk menolak jika tidak sesuai keinginannya. Tapi itu kembali kepada niatnya semula, tujuan menikah itu apa sih?

Dan hei, kita ingin seorang pasangan hidup yang sholehah, emang kita sendiri sudah sebaik apa sih? Pasangan hidup kita adalah cerminan diri kita sendiri. Itu rumusnya.

Jadi, bagaimana para ikhwan?


Responses

  1. Bagi saya antra cowok d

  2. mas yans mau nulis apa nih kok kepotong…

    ini salah satu pergeseran makna lagih ya..? bagi saya ndak ada yang spesial tuh dengan ikhwan, akhwat, akhi, ukhti, anta, anti, antum. Malah kadang terdengar exclusive di mata orang awam. Makanya saya lebih suka pake kata “pak”, “om”, “mas” ato “mbak” ato yang lain yang terdengar lebih familiar.

    Yah, menyesuaikan sama lawan bicara sih…

    trus masalahnya kok bergeser ke “pasangan hidup” yah… jadi bingung jawabnya…🙂

  3. –mas yans–
    pye mas yans, kepotong😄

    –heri setiawan–
    satuju klo untuk pengkhususan kyk gitu.
    eh bergeser ke pasangan hidup itu hanyasalah satu contoh aja, mas.

  4. Iyah kepotong, keburu buru kemaren, mau ke belakang si…
    Setuju dengan Om Hery….

  5. Ana agree with your story,no ikhwan no cry but no devotion to God, U will be cry 4ever our U life

  6. subhananllah brother, menggeliktik , lucu namun penuh makna dan inspiratif postingannya…..salam kenal en keep on blogging ya!!!!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: