Oleh: jashtiser | Maret 18, 2009

Kajian Kritis Terhadap Murabahah Financing In Islamic Bank

A. Pendahuluan

Eksistensi lembaga keuangan khususnya sektor perbankan menempati posisi yang sangat strategis dalam menjembatai kebutuhan modal kerja dan investasi di sektor riil dengan pemilik modal (rabb mal). Dengan demikian, fungsi utama sektor perbankan dalam infrastruktur kebijakan makro ekonomi memang diarahkan dalam konteks bagaimana menjadikan uang efektif untuk meningkatkan nilai tanbah ekonomi.

Belakang ini kemajuan dan perkembangan Islamic bank secara kuantitatif sangat mengembirakan. Perkembangan ini tentunya akan semakin mengeliat dari masa ke masa yang akan dating. Perkembangan secara kuantitatif akan timpang apabila tidak ditopang dengan perkembangan secara kualitas. Kualitas Islamic bank sangat ditentukan oleh kemampuan kinerhanya dan keberlangungan usahanya. Kinerja dan keberlangsungan usaha Islamic bank sangat dipengaruhi oleh kualitas dari penanaman dana atau pembiayaan.

Oleh karena itu, dalam rangka menjaga keinerja yang baik dan pengembangan usaha yang senantiasa sesuai dengan prinsip kehati-hatian dan prinsip syari’ah, maka birokrat Islamic bank wajib menjaga kualitas pembiayaan (financing). Pada kesempatan ini, penulis mencoba menela’ah dan menguji keualitas pembiayaan Islamic bank dengan harapan bisa memacu bankinr Islamic bank untuk selalu berkualitas.

B. Pengertian Murabahah

Sebelum beranjak lebih jauh dalam mengkritisi murabahah finacing sebagai salah satu bentuk pembiayaan dalam Islamic bank, maka langkah awal yang ditengarai memiliki makna penting adalah pemahaman terhadap bangunan formulasi konsep murabah itu sendiri.

murabahahApabila dilakukan analisis semantik terhadap kata murabahah maka akan diketemukan bahwa murabahah berakar dari kata ribhun (bahasa Arab) yang bermakna untung. Penulis memandang bahwa berangkat dari hasil analisis semantik inilah, kemudian dibangun beberapa pengertian murabahah secara utuh dan patuh seperti pengertian yang dikonsepkan oleh Adiwarman Karim bahwa secara singkat murabahah adalah akad jual beli barang dengan menyatakan harga perolehan dan keuntungan yang disepakati oleh penjual dan pembeli.[1]

Dalam redaksi yang lain diungkapkan murabahah adalah jual beli barang pada harga asal dengan tanbahan keuntungan yang disepakati antara pihak bank dan nasabah.[2] Dalam redaksi yang lain pula disebutkan murabahah adalah istila fikih Islam yang berarti suatu bentuk jual beli tertentu ketika penjual menyatakan biaya perolehan barang, meliputi harga barang dan biaya-biaya lain yang dikeluarkan untuk memperoleh barang tersebut, dan tingkat keuntungan (margin) yang di inginkan.[3] Dari beberapa pengertian di atas, penulis menilai, pengertian terkhirla yang memiliki karakteristik murabahah yang lengkap.

Dalam memperbincangkan apakah murabahah terbicarakan dalam teks suci, tanpaknya ada yang mengungkapkan bahwa al-Qur’an sebagai kumpulan teks suci tidak pernah mensuarakan secara eksplisit maupun implicit apa dan bagaimana itu murabahah, walaupun di dalam kumpulan teks suci tersebut disuarakan tentang jual beli, laba, rugi dan perdagangan.

Al-Kaff seorang kritikus murbahah kontemporer, menyimpulkan bahwa murabahah adalah”salah satu jenis jual beli yang tidak dikenal pada zaman Nabi atau para sahabatnya.” Menurutnya, para tokoh ulama mulai menyatakan pendapat mereka tentang muarbahah pada seperempat pertama abad kedua Hijriyah, atau bahkan lebih akhir lagi.[4]

C. Kajian Kritis Rekonstruktif

Kajian kritis ini lebih diarahkan kepada tingginya margin yang ditetapkan Islamic bank dalam murabahah financing dan tingkat suku bunga yang dijadikan acuan dalam penetapan margin tersebut. Dalam kajian ini penulis memberikan satu tawaran solusi yang penulis nilai lebih bernuasa islami dari yang selama ini teraplikasikan di Islamic bank.

Islamic bank pada umumnya telah menggunakan murabahah sebagai instumen pembiayaan (financing) yang utama. Pada dataran aplikatifnya di Indonesia Islamic bank, potofolio pembiayaan (financing) murabahah mencapai 70-80% dari keseluruhan pembiayaan.[5] Kondisi ini tidak hanya terjadi di bumi Indonesia saja, akan tetapi mewarnai pembiayaan-pembiayaan di Islamic bank dibeberapa Negara seperti Malaysia, Pakistan dan lainnya.

Ada beberapa alasan rasional yang diajukan untuk menjelaskan popularitas murabahah dalam operasional investasi Islamic bank, yaitu:

1) murabahah adalah investasi jangka pendek dan mudah bila dibandingkan dengan musyarakah dan mudarabah.

2) Mark up yang menjadi ciri khas murabahah dapat ditetapkan sedemikian rupa sehingga dapat dipastikan Islamic bank mendapat keuntungan yang sebanding dengan keuntungan yang diperoleh bank kovensional.

3) keuntungan murabahah pasti sebab murabahah merupakan natural certainty contracs, tentunya ini berbeda dengan bisnis dengan system profit and loss sharing yang menganut natural uncertainty contracs.

4) dalam murabahah Islamic bank sebagai pemberi pembiayaan tidak mencampuri manajemen bisnis sebab hubungan dalam murabahah adalah kreditur dengan debitur.

Bermuara dari kondisi dan alasan di atas, maka ada semacam “kecaman” dari masyarakat bahwa parktik Islamic bank tidak berbeda dengan bank konvensional (bank bunga). Dari hasil penelitian yang dilakukan BI menunjukkan bahwa 15% responden menilai Islamic bank tidak ada bedanya dengan dengan bank kovensional, “yang beda hanya bungkusnya.” Kalangan awam juga menilai bahwa keuntungan (margin) yang diambil oleh Islamic bank lebih besar dari keuntungan yang diambil bank konvensional.

Kondisi inilah yang harus dicarikan solusinya. Karena selama ini kalangan awam menilai yang namanya lembaga keuangan Islam selalu identik dengan harga murah baik dari segi administrasinya ataupun yang lainnya bahkan akhir-akhir ini sering tersuarakan selentingan di Islamic bank ribah haram tapi administrasi tinggi harum. Adanya penilaian murah di lembaga keuangan syari’ah oleh kalangan awam tersebut berimplikasi pada penilaian tidak islaminya Islamic bank jika terjadi penjualan barang olehnya dengan harga lebih tinggi jika dibandingkan harga jual bank yang tidak islam. Padahal, suatu ketika memang bisa terjadi demikian adanya. Oleh karena itu, perlu kiranya dicarikan kemasan murabahah yang mencerminkan keuntungan secara adil antara pihak bank dengan nasabah murabahah.

Penulis berargumen bahwa tingginya harga jual murabahah tidak terlepas dari dijadikannya tingkat suku bunga sebagai bahan rujukan dalam penentuan harga jual (pokok+margin). Dengan dijadikannya tingkat suku bunga sebagai acuan penetapan margin merupakan langkah sesat menyesatkan yang dapat merusak reputasi Islamic bank yang bebas bunga. Barangkalli tingginya margin yang ditetapkan Islamic bank untuk mengantisipasi naiknya suku bunga di pasar atau inflasi. Sehingga kalau terjadi kenaikan suku bunga yang besar, maka Islamic bank tidak mengalami kerugian secara riil, namun demikian apabila tingkat suku bunga stabil atau bahkan turun, maka margin murabahah akan lebih besar dibandingkan dengan tingkat bunga di bank konvensional.

Dijadikannya tingkat suku bunga sebagai acuan penetapan margin bisa jadi merupakan implikasi dari keinginan Islamic bank untuk selalu kompetetif dengan bank konvensional dalam pembendaharaan asset dan juga bisa merupakan implikasi dari target perolehan asset dari keseluruhan asset bank konvensional yang dicanangkan oleh Islamic bank dalam tiap tahunnya, disamping merupakan implikasi dari keinginan Islamic bank untuk mendapatkan customer yang bersifat floating customer.

Berkompetisi, memasang target dan ingin mendapatkan floating customer memang bukan tidak baik, tapi yang harus menjadi perhatian adalah kenyamanan pihak-pihak yang terlibat aktivitas perbankan dalam hal ini nasabah. Dalam masalah perolehan keuntungan dalam dunia bisnis, Ibnu Khaldun telah mengatakan bahwa keuntungan kecil tapi selalu berkesinambungan lebih baik daripda untung besar tapi sesaat, teori inilah yang menjadi rahasia sukses pebisnis cina. Berkorelasi dengan ini M. Quraish Shihab mengatakan”dalam prinsip bisnis, interaksi yang member untung sedikit tapi berkali-kali lebi baik daripada untung yang banyak tapi hanya sekali atau dua tiga kali.”[6]

Dengan penetapan margin murabahah yang tinggi, secara tidak langung akan mengakibatkan inflasi yang lebih besar daripada yang disebabkan oleh suku bunga, oleh karena itu, perlu di cari format dan formula yang tepat, agar nilai penjualan dengan murabahah tidak mengacu pada sikap mengantisipasi kenaikan suku bunga selama pembayaran cicilan. Karena, mengaitkan margin murabahah dengan suku bunga, baik di atasnya atau di bawahnya, tetapla bukan merupakan cara yang baik.

Solusi yang ditawarkan adalah sebaiknya, penetapan harga jual murabahah dilakukan dengan cara Rasulullah ketika berdagang. Dalam menentukan harga penjualan, Rasulullah secara transparan menjelaskan nominal harga belinya, nominal biaya yang dikeluarkan untuk setiap komoditas dan berapa nominal kuntungan yang wajar yang diinginkan.[7] Di sini, penulis sepaham dengan Muhamad bahwa cara yang dilakukan oleh Rasulullah ini dapat dipakai sebagai salah satu metode Islamic bank dalam menentukan harga jual produk murabahah. Dengan demikian dapat dihitung dengan menggunakan formula sebagai berikut:

Harga jual bank=harga beli bank+cost recovery+keuntungan

Proyeksi biaya operasi

Cost recovery————————————————

Target Volume Pembiayaan

Cosy recovery+keuntungan

Margin dalam presentase—————————————-x 100%

Harga beli bank

Biaya yang dikeluarkan harus dikembalikan (cost recovery) bisa didekati dengan membagi proyeksi biaya operasional bank, dengan target volume pembiayaan murabahah. Angka-angka tersebut dapat diperoleh dari Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP). Angka yang diperoleh ditambahkan dengan harga beli dari Pemasok dan keuntungan yang diinginkan, sehingga didapat harga jual. Margin dalam konteks ini adalah cost recovery ditambahkan dengan keuntungan bank. Apabila margin ingin dihitung persentasenya tinggal dibagi dengan harga beli barangn dikalikan 100%.

Setelah angka-angka di dapat, barulah prosentase margin ini dibandingkan dengan suku bunga. Agar pembiayaan murabahah kompetitif, maka margin murabahah harus lebih kecil dari bunga pinjaman. Jika masih lebih besar, maka yang harus dimainkan adalah memperkecil cost recovery dan keuntungan yang diharapakan. Jika keuntungan sudah diturunkan sampai batas minimalnya, dan ternyata marginnya masih lebih besar dari suku bunga, maka tentu ada yang tidak benar dengan cost recovery. Artinya, efsiensi bank tersebut rendah dan solusinya adalah pengurangan biaya operasional pada target volume pembiayaan yang sama. Efisiensi juga bisa di dapat dengan meningkatkan kualitas SDM di Islamic bank. Lebih bagus lagi, apabila pengurangan biaya oparsional dilakukan bersamaan dengan meningkatkan volume pembiayaan. Hal yang perlu mendapat perhatian, hasil penghitungan margin yang dicantumkan dalam kontrak murabahah dinyatakan dengan angka nominal, bukan dalam bentuk persentasenya.

BIBLIOGRAFI

Adiwarman Karim, Bank Islam: Analisis Fiqih dan Keuangan, Jakarta: Rajawali, 2008.

Heri Sudarsono, Bank dan Lembaga Keuangan Syari’ah: Deskripsi dan Ilustrasi, Yogyakarta: Penerbit Ekonosia, 2008.

Ascarya, Akad dan Produk Bank Syari’ah (Jakarta: Rajawali Press, 2007.

Muhamad, Manajemen Pembiayaan Bank Syari’ah, Yogyakarta: UPP AMP YKPN, 2005.

Muhamad, Manajemen Bank Syari’ah, Yogyakarta: UPP AMP YKPN, 2005.

M. Quraish Shihab, Berbisnis Dengan Allah: Tips Jitu Jadi Pebisnis Sukses Dunia-Akhirat Jakarta: Litera Hati, 2008.

[1] Adiwarman Karim, Bank Islam: Analisis Fiqih dan Keuangan (Jakarta: Rajawali, 2008), hal. 113

[2] Heri Sudarsono, Bank dan Lembaga Keuangan Syari’ah: Deskripsi dan Ilustrasi (Yogyakarta: Penrbit Ekonosia, 2008), hal. 69.

[3] Ascarya, Akad dan Produk Bank Syari’ah (Jakarta: Rajawali Press, 2007), hal. 83.

[4] Dikutip dari Muhamad, Manajemen Pembiayaan Bank Syari’ah (Yogyakarta: UPP AMP YKPN, 2005), hal. 119

[5] Muhamad, Manajemen Bank Syari’ah (Yogyakarta: UPP AMP YKPN, 2005), hal. 138

[6] M. Quraish Shihab, Berbisnis Dengan Allah: Tips Jitu Jadi Pebisnis Sukses Dunia-Akhirat (Jakarta: Litera Hati, 2008),hal 15.

[7] Dikutip dari Muhamad, Manajemen Pembiayaan Bank Syari’ah, Op.cit., hal. 142-143


Responses

  1. kemaren pinjem di bmt ******* . diangsur selama 24bulan.

    ada 2 pembagian:
    1. biaya margin bagi hasil
    2. biaya pokok

    pada bulan ke 14, semua biaya pokok sudah terlunasi.

    masalahnya, kenapa margin untuk bulan ke 15-24 tetep diminta..? walaupun hanya setengahnya, bukankah itu tetep RIBA..? jadi ndak percaya nih saya ama BMT…

    • Bro minjem apa di BMT? minjem duit? wah kalau minjem duit lalu ada margin yg diambil itu namanya Riba yang diharamkan. Tetapi kalau transaksinya adalah jual beli, maka yang perlu anda cermati bahwa harga jual yg merupakan harga beli + keuntungan adalah total hutang anda tanpa membedakan berapa harga pokok dan margin di dalam angsuran. Sehingga menjadi keliru ketika membagi HUTANG dengan biaya margin dan biaya pokok. Piyee? smg mencerahkan.

  2. mau berana apakah kelebihan dan kekurangan murabahah dibanding produk pembiayaan yang lain, mohon dijawab makasih !!!

  3. mau bertanya apakah kelebihan dan kekurangan murabahah dibanding produk pembiayaan yang lain, mohon dijawab makasih !!!

  4. Mantap banget solusinya….namun saya masih kebingungan juga dengan pertanyaan saudara heri yang belum ada jawabannya….semoga kita semua tdk lari dari masalah ketika ada masalah, tapi menyelesaikan masalah untuk tidak bermasalah lagi..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: